Rabu, 30 November 2011

Askep Ca colon Akper


TUGAS MAKALAH KMB I
Dosen : SAHARUDDIN, S.Kep, Ns, M.Kes


SISTEM PENCERNAAN
CA COLON


 














Disusun oleh :

Kelompok VI (ENAM)



ANGGRAINI PUTRI DEVIYANTI A
SYAMSINAR ALAM
LUKMANUL HAKIM
RAMLAH HAMID



AKADEMI KEPERAWATAN MAPPAODDANG
MAKASSAR
2011
DAFTAR ISI
1.            Sampul ………………………………………………………………………  i
2.            Daftar isi ……………………………………………………………………  ii
3.            Bab I
I.   Konsep medik
A.           Pengertian ………………………………………………………. 1
B.           Anatomi fisiologi ………………………………………………. 1
C.           Patofisiologi ……………………………………………………. 2
D.           Dampak penyimpangan kdm ………………………………… 4
E.            Insiden …………………………………………………………… 5
F.             Gejala …………………………………………………………… 5
G.           Etiologi ………………………………………………………….. 8
H.           Pencegahan …………………………………………………….. 8
I.              Penatalaksanaan ……………………………………………… 13
J.            Pengobatan ……………………………………………………. 14
K.           Pemeriksaan penunjang …………………………………….. 20
II.      Konsep keperawatan
A.         Pengkajian ……………………………………………………... 22
B.         Diagnosa keperawatan ………………………………………. 23
C.         Intervensi dan rasional ………………………………………. 24
D.         Evaluasi ………………………………………………………… 26



4.            Bab  II
A.   Kesimpulan ……………………………………………………. 28
B.   Saran …………………………………………………………… 28
5.            Daftar pustaka ………………………………………………………….. 29
  



















BAB I

1. Konsep Medik
A. Defenisi
                   Colorectal Cancer atau dikenal sebagai Ca. Colon atau Kanker Usus Besar adalah suatu bentuk keganasan yang terjadi pada kolon, rektum, dan appendix (usus buntu). Di negara maju, kanker ini menduduki peringkat ke tiga yang paling sering terjadi, dan menjadi penyebab kematian yang utama di dunia barat. Untuk menemukannya diperlukan suatu tindakan yang disebut sebagai kolonoskopi, sedangkan untuk terapinya adalah melalui pembedahan diikuti kemoterapi. 

B. Anatomi Fisiologi











                                                                                       
C. Patofisiologi
Perubahan Patologi Tumor terjadi ditempat yang berada dalam colon mengikuti kira-kira pada bagian  ( Sthrock 1991  )  :
·   26 % pada caecum dan ascending colon
·   10 % pada transfersum colon
·    15 % pada desending colon
·   20 % pada sigmoid colon
·   30 % pada rectum
Gambar dibawah ini menggambarkan terjadinya kanker pada sigmoid dan colon kanan dan mengurangi timbulnya penyakit pada rektum dalam waktu 30 tahun
(Sthrock ).
Karsinoma Colon sebagian besar menghasilkan adenomatus polip. Biasanya tumor ini tumbuh tidak terditeksi sampai gejala-gejala muncul secara berlahan dan tampak membahayakan.Penyakit ini menyebar dalam beberapa metode.Tumor mungkin menyebar dalam tempat tertentu pada lapisan dalam di perut,mencapai serosa dan mesenterik fat.Kemudian tumor mulai melekat pada organ yang ada disekitarnya,kemudian meluas kedalam lumen pada usus besar atau menyebar ke limpa atau pada sistem sirkulasi. Sistem sirkulasi ini langsung masuk dari tumor utama melewati pembuluh darah pada usus besar melalui limpa,setelah sel tumor masuk pada sistem sirkulasi,biasanya sel bergerak menuju liver. Tempat yang kedua adalah tempat yang jauh kemudian metastase ke paru-paru. Tempat metastase yang lain termasuk :
-          Kelenjar Adrenalin
-          Ginjal
-          Kulit
-          Tulang
-          Otak
Penambahan untuk infeksi secara langsung dan menyebar melalui limpa dan sistem sirkulasi,tumor colon juga dapat menyebar pada bagian peritonial sebelum pembedahan tumor belum dilakukan. Penyebaran terjadi ketika tumor dihilangkan dan sel kanker dari tumor pecah menuju ke rongga peritonial.

E. Insiden ( Kasus )
              Insidensnya meningkat sesuai dengan usia (kebanyakan pada pasien yang berusia lebih dari 55 tahun) dan makin tinggi pada individu dengan riwayat keluarga mengalami kanker kolon, penyakit usus inflamasi kronis atau polip. Perubahan pada persentase distribusi telah terjadi pada tahun terakhir. Insidens kanker pada sigmoid dan area rektal telah menurun, sedangkan insidens pada kolon asendens dan desendens meningkat.
   
              Kira-kira 152.000 orang di amerika serikat terdiagnosa kanker Colon  pada tahun 1992 dan 57.000 orang meninggal karena kanker ini pada tahun yang sama (ACS 1993). Sebagian besar klien pada kanker Colon mempunyai frekuensi yang sama antara laki-laki dan perempuan. Kanker pada colon kanan biasanya terjadi pada wanita dan Ca pada rektum biasanya terjadi pada laki-laki.

F. Gejala
     Mula-mula gejalanya tidak jelas, seperti berat badan menurun (sebagai gejala umum keganasan) dan kelelahan yang tidak jelas sebabnya. Setelah berlangsung beberapa waktu barulah muncul gejala-gejala lain yang berhubungan dengan keberadaan tumor dalam ukuran yang bermakna di usus besar. Makin dekat lokasi tumor dengan anus biasanya gejalanya makin banyak. Bila kita berbicara tentang gejala tumor usus besar, gejala tersebut terbagi tiga, yaitu gejala lokal, gejala umum, dan gejala penyebaran (metastasis).
Gejala lokalnya adalah :
·      Perubahan kebiasaan buang air
·      Perubahan frekuensi buang air, berkurang (konstipasi) atau bertambah (diare)
·      Sensasi seperti belum selesai buang air, (masih ingin  tapi sudah tidak bisa keluar) dan perubahan diameter serta ukuran kotoran (feses). Keduanya adalah ciri khas dari kanker kolorektal
·      Perubahan wujud fisik kotoran/feses
·      Peses bercampur darah atau keluar darah dari lubang pembuangan saat buang air besar
·      Peses bercampur lendir
·      Peses berwarna kehitaman, biasanya berhubungan dengan terjadinya perdarahan di saluran pencernaan bagian atas
·      Timbul rasa nyeri disertai mual dan muntah saat buang air besar, terjadi akibat sumbatan saluran pembuangan kotoran oleh massa tumor
·      Adanya benjolan pada perut yang mungkin dirasakan oleh penderita
·      Timbul gejala-gejala lainnya di sekitar lokasi tumor, karena kanker dapat tumbuh mengenai organ dan jaringan sekitar tumor tersebut, seperti kandung kemih (timbul darah pada air seni, timbul gelembung udara, dll), vagina (keputihan yang berbau, muncul lendir berlebihan, dll). Gejala-gejala ini terjadi belakangan, menunjukkan semakin besar tumor dan semakin luas penyebarannya



Gejala umumnya adalah :
·         Berat badan turun tanpa sebab yang jelas (ini adalah gejala yang paling umum di semua jenis keganasan)
·         Hilangnya nafsu makan
·         Anemia, pasien tampak pucat
·         Sering merasa lelah
·         Kadang-kadang mengalami sensasi seperti melayang
Gejala penyebarannya adalah :
·         Penyebaran ke Hati, menimbulkan gejala :
·         Penderita tampak kuning
·         Nyeri pada perut, lebih sering pada bagian kanan atas, di sekitar lokasi hati
·         Pembesaran hati, biasa tampak pada pemeriksaan fisik oleh dokter
·         Timbul suatu gejala lain yang disebut paraneoplastik, berhubungan dengan peningkatan kekentalan darah akibat penyebaran kanker.

G. Etiologi
Kontak dengan zat-zat kimia tertentu seperti logam berat, toksin, dan ototoksin serta gelombang elektromagnetik.
                           Pola makan yang buruk, antara lain terlalu banyak daging dan lemak yang tidak  diimbangi buah dan sayuran segar yang banyak mengandung serat.
Zat besi yang berlebihan diantaranya terdapat pada pigmen empedu, daging sapi dan kambing serta tranfusi darah.
Lemak jenuh dan asam lemak omega-6 (asam linol).
                        Minuman beralkohol, khususnya bir. Usus mengubah alkohol menjadi asetilaldehida       yang meningkatkan risiko menderita kanker kolon.Obesitas.
                        Bekerja sambil duduk seharian, seperti para eksekutif, pegawai administrasi, atau pengemudi kendaraan umum.

H. Pencegahan
Kebanyakan kanker kolorektal harus dicegah, melalui peningkatan pengawasan, gaya hidup membaik, dan, mungkin, penggunaan agen chemopreventative makanan.

        Pengawasan

Kebanyakan kanker kolorektal timbul dari polip adenomatosa. Lesi ini dapat dideteksi dan dihilangkan selama kolonoskopi. Sebuah studi 1993 menyarankan prosedur ini akan berkurang> 80% risiko kematian kanker, asalkan dimulai pada usia 50, dan diulang setiap 5 atau 10 tahun. Sebuah studi 2009 yang diterbitkan di Annals of Internal Medicine menunjukkan bahwa screening colonoscopy mencegah sekitar dua pertiga dari kematian akibat kanker kolorektal di sisi kiri usus besar, dan tidak dikaitkan dengan penurunan yang signifikan dalam kematian dari kanan-sisi penyakit. Hasil disarankan kira-kira ringkasan 37% pengurangan tingkat kematian bersih dari kanker kolorektal.
Sesuai pedoman saat ini di bawah National Cancer Jaringan Komprehensif , pada individu berisiko rata-rata negatif dengan riwayat keluarga kanker usus besar dan sejarah pribadi negatif untuk adenoma atau penyakit radang usus , sigmoidoskopi fleksibel setiap 5 tahun dengan pengujian darah yang tersembunyi tinja setiap tahunnya atau kontras barium enema ganda yang lain diterima untuk skrining daripada colonoscopy setiap 10 tahun (yang saat ini "standar emas" perawatan) pilihan.

Gaya hidup dan nutrisi

Perbandingan kejadian kanker kolorektal di berbagai negara sangat menunjukkan bahwa sedentarity, makan berlebihan (misalnya, asupan kalori tinggi), dan mungkin diet tinggi daging (merah atau olahan) dapat meningkatkan risiko kanker kolorektal. Sebaliknya, berat badan yang sehat, kebugaran fisik, dan gizi yang baik mengurangi resiko kanker secara umum. Oleh karena itu, perubahan gaya hidup dapat mengurangi risiko kanker kolorektal sebanyak 60-80%.
Sebuah asupan tinggi serat makanan (dari makan buah, sayuran, sereal, dan produk serat tinggi lainnya makanan) telah, sampai saat ini, telah berpikir untuk mengurangi risiko kanker kolorektal dan adenoma. Dalam studi terbesar yang pernah untuk memeriksa teori ini (88.757 subyek dilacak selama 16 tahun), telah ditemukan bahwa makanan yang kaya serat tidak mengurangi risiko kanker usus besar. Sebuah 2005 meta-analisis studi lebih lanjut mendukung temuan ini.
Harvard School of Public Health menyatakan: Efek Kesehatan "Makan Serat: Panjang digembar-gemborkan sebagai bagian dari diet yang sehat, serat muncul untuk mengurangi risiko mengembangkan berbagai kondisi, termasuk penyakit jantung, diabetes, penyakit divertikular, dan sembelit Meskipun apa yang banyak. orang mungkin berpikir, bagaimanapun, serat mungkin memiliki sedikit, jika ada efek pada risiko kanker usus. "

Chemoprevention

Lebih dari 200 agen, termasuk fitokimia yang dikutip di atas, dan komponen makanan lain seperti kalsium atau asam folat (vitamin B), dan NSAID seperti aspirin, dapat menurunkan karsinogenesis dalam pengembangan pra-klinis Model: Beberapa penelitian menunjukkan penghambatan karsinogen penuh -diinduksi tumor di usus besar tikus. Studi lain menunjukkan penghambatan yang kuat dari polip usus spontan pada tikus bermutasi (Min tikus). Uji klinis chemoprevention pada sukarelawan manusia telah menunjukkan pencegahan yang lebih kecil, namun beberapa studi intervensi telah selesai hari ini. The "chemoprevention database" menunjukkan hasil dari semua studi ilmiah yang diterbitkan agen kemopreventif, pada manusia dan pada hewan.

kemoprofilaksis Aspirin

Aspirin tidak boleh diambil secara rutin untuk mencegah kanker kolorektal, bahkan pada orang dengan riwayat keluarga penyakit, karena risiko perdarahan dan gagal ginjal dari aspirin dosis tinggi (300 mg atau lebih) lebih besar daripada manfaatnya mungkin.
Sebuah pedoman praktek klinis dari Angkatan US Preventive Services Task (USPSTF) direkomendasikan terhadap mengambil aspirin ( kelas D rekomendasi ). Task Force mengakui bahwa aspirin dapat mengurangi kejadian kanker kolorektal, namun "menyimpulkan yang merugikan lebih besar daripada manfaat dari aspirin dan OAINS digunakan untuk pencegahan kanker kolorektal ". A subsequent meta-analysis concluded "300 mg or more of aspirin a day for about 5 years is effective in primary prevention of colorectal cancer in randomised controlled trials, with a latency of about 10 years". However, long-term doses over 81 mg per day may increase bleeding events. Sebuah berikutnya meta-analisis menyimpulkan "300 mg atau lebih aspirin sehari selama sekitar 5 tahun adalah efektif dalam pencegahan primer dari kanker kolorektal dalam uji terkontrol acak, dengan latency sekitar 10 tahun". Namun, jangka panjang dosis lebih dari 81 mg per hari dapat meningkatkan kejadian perdarahan.

Kalsium

The meta-analisis oleh Cochrane Collaboration dari uji coba terkontrol secara acak dipublikasikan melalui 2002 menyimpulkan "Meskipun bukti dari dua RCT menunjukkan bahwa suplementasi kalsium mungkin berkontribusi terhadap tingkat moderat dengan pencegahan polip kolorektal adenomatosa, ini bukan merupakan bukti yang cukup untuk merekomendasikan penggunaan umum dari suplemen kalsium untuk mencegah kanker kolorektal. " Selanjutnya, salah satu uji coba terkontrol secara acak oleh Health Initiative Perempuan (WHI) melaporkan hasil negatif. Sebuah kedua uji coba terkontrol secara acak dilaporkan pengurangan semua kanker, tetapi kolorektal cukup kanker untuk analisis.

Vitamin D

Sebuah kajian ilmiah yang dilakukan oleh National Cancer Institute menemukan bahwa vitamin D bermanfaat dalam mencegah kanker kolorektal, yang menunjukkan hubungan terbalik dengan tingkat darah 80 nmol / L atau lebih tinggi terkait dengan pengurangan risiko 72% lebih rendah dibandingkan dengan dari 50 nmol / L . Sebuah mekanisme yang mungkin adalah penghambatan transduksi sinyal Hedgehog.

I. Penatalaksanaan
Pasien dengan gejala obstruksi usus diobati dengan cairan IV dan pengisapan nasogastrik. Apabila terdapat perdarahan yang cukup bermakna, terpai komponen darah dapat diberikan.
Pengobatan tergantung pada tahap penyakit dan komplikasi yang berhubungan. Endoskopi, ultrasonografi dan laparoskopi telah terbukti berhasil dalam pentahapan kanker kolorektal pada periode praoperatif. Metode pentahapan yang dapat digunakan secara luas adalah klasifikasi Duke:
a. Kelas A – tumor dibatasi pada mukosa dan sub mukosa
b. Kelas B – penetrasi melalui dinding usus
c. Kelas C – Invasi ke dalam sistem limfe yang mengalir regional
d. Kelas D – metastasis regional tahap lanjut dan penyebaran yang luas
Pengobatan medis untuk kanker kolorektal paling sering dalam bentuk pendukung atau terapi ajufan. Terapi ajufan biasanya diberikan selain pengobatan bedah. Pilihan mencakup kemoterapi, terapi radiasi atau imunoterapi.
Terapi ajufan standar yang diberikan untuk pasien dengan kanker kolon kelas C adalah program 5-FU/ Levamesole. Pasien dengan kanker rektal Kelas B dan C diberikan 5-FU dan metil CCNU dan dosis tinggi radiasi pelvis.
Terapi radiasi sekarang digunakan pada periode praoperatif, intraoperatif dan pascaoperatif untuk memperkecil tumor, mencapai hasil yang lebih baik dari pembedahan, dan untuk mengurangi resiko kekambuhan. Untuk tumor yang tidak dioperasi atau tidak dapat disekresi, radiasi digunakan untuk menghilangkan gejala secara bermakna. Alat radiasi intrakavitas yang dapat diimplantasikan dapat digunakan.
Data paling baru menunjukkan adanya pelambatan periode kekambuhan tumor dan peningkatan waktu bertahan hidup untuk pasien yang mendapat beberapa bentuk terapi ajufan.               

J. Pengobatan
Untuk kanker usus besar yang belum menyebar ke tempat yang jauh, operasi biasanya perawatan utama atau pertama. Adjuvant (additional) chemotherapy may also be used. Adjuvant (tambahan) kemoterapi juga dapat digunakan. Most adjuvant treatment is given for about 6 months. Pengobatan yang paling ajuvan diberikan untuk sekitar 6 bulan.

    Stadium 0

Karena kanker ini tidak tumbuh melampaui lapisan dalam usus besar, operasi untuk mengambil kanker adalah semua yang diperlukan. Hal ini dapat dilakukan pada kebanyakan kasus oleh polypectomy (menghapus polip) atau eksisi lokal melalui kolonoskop. Colon reseksi (kolektomi) kadang-kadang mungkin diperlukan jika tumor terlalu besar untuk dihapus dengan eksisi lokal.

    Tahap I

Kanker ini telah berkembang melalui beberapa lapisan usus besar, tetapi mereka belum menyebar di luar dinding usus itu sendiri (atau ke kelenjar getah bening di dekatnya). Kolektomi parsial - pembedahan untuk mengangkat bagian usus yang memiliki kanker dan kelenjar getah bening di dekatnya - adalah pengobatan standar. Anda tidak memerlukan terapi tambahan.

    Tahap II

Banyak dari kanker ini telah tumbuh melalui dinding usus besar dan dapat meluas ke jaringan di dekatnya. Mereka belum menyebar ke kelenjar getah bening.
Bedah (kolektomi) mungkin satu-satunya pengobatan yang dibutuhkan. Tapi dokter anda dapat merekomendasikan kemoterapi ajuvan (kemo) jika kanker Anda memiliki risiko lebih tinggi datang kembali karena faktor-faktor tertentu, seperti:
·      Kanker terlihat sangat abnormal (yang kelas tinggi) bila dilihat di bawah mikroskop.
·      Kanker menunjukkan ketidakstabilan mikrosatelit (MSI)
·      Kanker telah berkembang menjadi organ terdekat.
·      Dokter bedah tidak menghapus setidaknya 12 kelenjar getah bening.
·      Kanker ditemukan di atau dekat margin (tepi) dari spesimen bedah, yang berarti bahwa kanker beberapa mungkin telah ditinggalkan.
·      Kanker telah diblokir (terhalang) usus besar.
·      Kanker menyebabkan perforasi (lubang) di dinding usus besar.
Tidak semua dokter setuju pada saat kemo harus digunakan untuk kanker usus besar tahap II. Hal ini penting untuk membahas pro dan kontra dari kemoterapi dengan dokter Anda, termasuk berapa banyak mungkin mengurangi risiko kekambuhan dan apa efek samping kemungkinan akan.
Paling sering, kemoterapi yang diberikan akan FOLFOX (5-FU, leucovorin, dan oxaliplatin). Untuk pasien yang memiliki efek samping terlalu banyak, 5-FU dan leucovorin sendiri atau capecitabine dapat digunakan sebagai gantinya. Dokter mungkin merekomendasikan satu tertentu ini jika lebih cocok dengan kebutuhan kesehatan Anda.
Jika dokter bedah Anda tidak yakin ia mampu menghapus semua kanker karena tumbuh ke jaringan lain, terapi radiasi mungkin disarankan untuk mencoba membunuh sel-sel kanker yang tersisa. Terapi radiasi dapat diberikan ke daerah perut Anda di mana kanker itu tumbuh.

    Tahap III

Pada tahap ini, kanker telah menyebar ke kelenjar getah bening di dekatnya, tetapi belum menyebar ke bagian lain dari tubuh.
Bedah (kolektomi parsial) yang diikuti oleh kemoterapi ajuvan adalah pengobatan standar untuk tahap ini. Regimen FOLFOX adalah kombinasi kemoterapi yang paling umum, meskipun beberapa dokter mungkin lebih suka 5-FU dan leucovorin, atau capecitabine sendirian jika mereka lebih cocok dengan kebutuhan kesehatan Anda.
Dokter Anda mungkin juga menyarankan terapi radiasi jika dokter bedah Anda berpikir beberapa sel kanker mungkin telah ditinggalkan setelah operasi.
Pada orang yang tidak cukup sehat untuk operasi, terapi radiasi dan / atau kemoterapi bisa jadi pilihan.

    Tahap IV

Kanker telah menyebar dari usus ke organ jauh dan jaringan seperti hati, paru-paru, peritoneum, atau ovarium.
Dalam kebanyakan kasus operasi tidak mungkin untuk menyembuhkan kanker ini. Namun, jika hanya beberapa daerah kecil penyebaran kanker (metastasis) yang hadir dalam hati atau paru-paru dan mereka dapat benar-benar dihapus bersamaan dengan kanker usus besar, pembedahan dapat membantu Anda hidup lebih lama dan bahkan bisa menyembuhkan Anda. Kemoterapi biasanya diberikan juga, sebelum dan / atau setelah operasi. Dalam beberapa kasus, arteri hepatik infus dapat digunakan jika kanker telah menyebar ke hati.
Jika metastasis tidak bisa diangkat dengan operasi karena mereka terlalu besar atau terlalu banyak dari mereka, kemoterapi mungkin dicoba pertama untuk mengecilkan tumor untuk memungkinkan operasi. Kemoterapi kemudian akan diberikan lagi setelah operasi. Pilihan lain mungkin untuk menghancurkan tumor di hati dengan cryosurgery, ablasi frekuensi radio, atau non-bedah metode.
Jika kanker ini terlalu luas untuk mencoba menyembuhkannya dengan operasi, operasi seperti kolektomi atau colostomy pengalihan (memotong usus di atas tingkat kanker dan melampirkan akhir untuk bukaan pada kulit pada perut untuk memungkinkan limbah keluar) mungkin masih diperlukan dalam beberapa kasus. Hal ini dapat meringankan atau mencegah penyumbatan usus besar dan sehingga dapat mencegah masalah-masalah tertentu. Kadang-kadang, operasi tersebut dapat dihindari dengan memasukkan stent (logam berongga atau tabung plastik) ke dalam usus besar selama kolonoskopi untuk tetap terbuka.
Jika Anda memiliki kanker stadium IV dan dokter Anda merekomendasikan operasi, sangat penting untuk memahami apa tujuan dari operasi ini - apakah itu adalah mencoba untuk menyembuhkan kanker atau untuk mencegah atau meredakan gejala penyakit.
Kebanyakan pasien dengan kanker stadium IV akan mendapatkan kemoterapi dan / atau terapi bertarget untuk mengendalikan kanker. Regimen yang paling umum digunakan termasuk:
·   FOLFOX (leucovorin [asam folinic], 5-FU, dan oxaliplatin)
·   FOLFIRI (leucovorin, 5-FU, dan irinotecan)
·   CapeOX (capecitabine dan oxaliplatin)
·   Apapun di atas kombinasi bevacizumab plus atau cetuximab (tapi tidak keduanya)
·   5-FU dan leucovorin, dengan atau tanpa bevacizumab
·   Capecitabine, dengan atau tanpa bevacizumab
·   FOLFOXIRI (leucovorin, 5-FU, oxaliplatin, dan irinotecan)
·   Irinotecan, dengan atau tanpa cetuximab
·   Cetuximab saja
·   Panitumumab saja
Pemilihan rejimen mungkin tergantung pada beberapa faktor, termasuk pengobatan sebelumnya Anda sudah dan kesehatan Anda secara keseluruhan. Jika salah satu rejimen tidak lagi efektif, yang lain mungkin dicoba.
Untuk kanker stadium lanjut, terapi radiasi juga dapat digunakan untuk membantu mencegah atau meredakan gejala seperti nyeri. Walaupun mungkin mengecilkan tumor selama beberapa waktu, sangat tidak mungkin untuk menghasilkan kesembuhan. Jika dokter Anda merekomendasikan terapi radiasi, adalah penting bahwa Anda memahami tujuan pengobatan.
                    
K. Pemeriksaan Penunjang
    Endoskopi :


Pemeriksaan endoskopi perlu dilakukan baik sigmoidoskopi maupun kolonoskopi.
Radiologis:
Pemeriksan radiologis yang dapat dilakukan antara lain adalah foto dada dan foto kolon (barium enema). Foto dada dilakukan untuk melihat apakah ada metastasis kanker ke paru.
Ultrasonografi (USG:)
Sulit dilakukan untuk memeriksa kanker pada kolon, tetapi digunakan untuk melihat ada tidaknya metastasis kanker ke kelenjar getah bening di abdomen dan hati.


Histopatologi:
Biopsy digunakan untuk menegakkan diagnosis. Gambar histopatologis karsinoma kolon adalah adenokarsinoma dan perlu ditentukan diferensiansi sel.
Laboratorium:
Pemeriksaan Hb penting untuk memeriksa kemungkinan pasien mengalami perdarahan (FKUI, 2001 : 210).



2. Konsep Dasar Keperawatan
1. Pengkajian
a. Identitas pasien
Nama : Sdr. N
Umur : 25 Tahun
Jenis kelamin : Laki-laki
b. Keluhan utama
· Fotopobia
· Blured vision
· Pink eye
· Mata terasa pegal
· Sekret mukopurulen
c. Pemeriksaan fisik
· Inspeksi
· Palpasi
· Perkusi
· Auskultasi
d. Riwayat penyakit dahulu
e. Riwayat penyakit sekarang
Konjungtivitis

2. Pengelompokan data
· DO : S = 37,8 0C
· DS :
- Fotopobia
- Blured vision
- Pink eye dan terasa pegal
-        Sekret mukopurulen pada mata






3. Analisa Data
No
Data
Etiologi
Problem
1
DO : -
DS : -
Pelebaran pembuluh darah mata
Nyeri
2
DO : -
DS : - Fotopobia
- Blured vision
- Pink eye
- Terasa pegal
- Sekret mukopurulen
Penurunan ketajaman penglihatan
Resiko injury
3
DO : -
DS : - Fotopobia
- Blured vision
- Pink eye
- Terasa pegal
- Sekret mukopurulen
Kelainan lapang pandang
Gg. Persepsi sensori penglihatan



4. Rencana Keperawatan
a. Nyeri b/d proses peradangan
Ø Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam, pasien
melaporkan nyeri hilang terkontrol.
Ø Kriteria hasil :
· Mengungkapkan metode yang memberikan pengurangan
· Mengalami perbaikan dalam tingkat ketajaman
Ø Intervensi :
· Kaji tingkat nyeri
· Jelaskan penyebab nyeri
· Kompres mata dengan air hangat
· Mata istirahatkan
· Kolaborasi dalam pemberian obat mata (AB)
Ø Rasional :
· Mengetahui tingkat nyeri untuk memudahkan intervensi selanjutnya
· Untuk menambah pengetahuan pasien
· Untuk mengurangi rasa nyeri
· Menurunkan radang, mengurangi aktivitas
· Menghilangkan peradangan
b. Resiko injury b/d penurunan ketajaman penglihatan
Ø Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24
Ø jam, pasien
mengalami peningkatan ketajaman penglihatan.
Ø Kriteria hasil : Pandangan klien dapat berfungsi dengan baik atau normal kembali
Ø Intervensi :
· Orientasikan lingkungan dan situasi lain
· Anjurkan klien untuk mempelajari kembali ADL
· Anjurkan klien/keluarga meletakkan peralatan yang dibutuhkan pada tempat yang mudah dijangkau
Ø Rasional :
· Untuk meningkatkan pengenalan tempat sekitar
· Meningkatkan respon stimulus dan semua ketergantungannya
· Mengurangi pecahnya alat yang dapat mencederai klien
c. Gangguan persepsi penglihatan b/d kelainan lapang pandang
Ø Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam, pasien dapat meningkatkan ketajaman penglihatan dalam batas situasi individu.


Ø Kriteria hasil :
· Mengenal gangguan sensori dan berkompensasi terhadap perubahan
· Mengidentifikasi atau memperbaiki potensial bahaya dalam lingkungan.
Ø Intervensi :
· Kaji kemampuan melihat
· Menjelaskan terjadinya gangguan persepsi penglihatan
Ø Rasional :
· Untuk mengetahui sejauh mana kemampuan melihat
· Untuk meningkatkan pemahaman dan mengurangi ansietas pasien.









B A B  II
P E N U T U P

A.   KESIMPULAN
             Colorectal Cancer atau dikenal sebagai Ca. Colon atau Kanker Usus Besar adalah suatu bentuk keganasan yang terjadi pada kolon, rektum, dan appendix (usus buntu). Di negara maju, kanker ini menduduki peringkat ke tiga yang paling sering terjadi, dan menjadi penyebab kematian yang utama di dunia barat.
           Penyakit kanker colon tersebut disebabkan oleh beberapa factor yaitu:
- Kontak dengan zat-zat kimia tertentu seperti logam berat, toksin, dan ototoksin serta gelombang elektromagnetik.
- Pola makan yang buruk, antara lain terlalu banyak daging dan lemak yang tidak  diimbangi buah dan sayuran segar yang banyak mengandung serat.
- Zat besi yang berlebihan diantaranya terdapat pada pigmen empedu, daging sapi dan kambing serta tranfusi darah.
                - Lemak jenuh dan asam lemak omega-6 (asam linol).
                - Minuman beralkohol, khususnya bir. Usus mengubah alkohol menjadi asetilaldehida       yang meningkatkan risiko menderita kanker kolon.Obesitas.
                - Bekerja sambil duduk seharian, seperti para eksekutif, pegawai administrasi, atau pengemudi kendaraan umum.
 Mula-mula gejalanya tidak jelas, seperti berat badan menurun (sebagai gejala umum keganasan) dan kelelahan yang tidak jelas sebabnya. Setelah berlangsung beberapa waktu barulah muncul gejala-gejala lain yang berhubungan dengan keberadaan tumor dalam ukuran yang bermakna di usus besar. Makin dekat lokasi tumor dengan anus biasanya gejalanya makin banyak. Bila kita berbicara tentang gejala tumor usus besar, gejala tersebut terbagi tiga, yaitu gejala lokal, gejala umum, dan gejala penyebaran (metastasis).

B.   SARAN
1. Bagi para pembaca, diharapkan dapat memetik pemahaman dari uraian yang dipaparkan diatas, dan dapat mengaplikasikannya dalam lingkungan masyarakat sehingga dapat mencegah terjadinya  Ca  Colon.
2. Bagi mahasiswa, diharapkan agar terus menambah wawasan khususnya dalam bidang keperawatan.
3. Bagi dosen pembimbing, diharapkan dapat memberi masukan, baik dalam proses penyusunan maupun dalam pemenuhan referensi untuk membantu kelancaran dan kesempurnaan pembuatan makalah kedepannya.






















DAFTAR PUSTAKA
Arief Mansjoer( 2000 ), Kapita Selekta Kedokteran, edisi 3, Jakarta : Media Aesculapius FKUI
Carpenito. LJ ( 2001 ). Buku Saku Diagnosa Keperawatan, Edisi 8. Alih bahasaMonica Ester. Jakarta : EGC
Doenges, Marilynn, E., et. al., 1999, Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman untuk
Perencanaan  dan  Pendokumentasian  Perawatan  Pasien,  Edisi  3,  EGC, Jakarta.

Ganong, William, F., 1998, Buku Ajar Fisiologi Kedokteran, Edisi 17, EGC, Jakarta.

Mansjoer, A., et. al. 2001, Kapita Selekta Kedokteran, Jilid I, Edisi III, Cetakan IV, Media Aekulapius. FK-UI, Jakarta.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar